Minggu, 23 Maret 2014

Warung Dedari, Jembatan Petang, Batur hingga Ceking

Sama sih sama blog tentang Ulun Danu Bratan dan Munduk Waterfall, ini sama basinya, karna tempat-tempat ini gue kunjungi berurutan, so maklumin aja yah :D

Setelah lelah seharian berkunjung di Ulun Danu Bratan dan Munduk Waterfal, perjalan dileesokan harinya gue niatnya sih langsung pulang, tapi kayaknya useless banget kalo jalan-jalan cuma begitu aja.

Ditengah perjalan ketika perut terasa lapar (lebay) akhirnya gue berhenti pada sebuah warung makan dengan design cantik dan tradisional, namanya Warung Dedari, lokasinya di Tabanan.
Karena diri ini hanyalah seorang mahasiswa dengan uang janjan yang pas-pasan, awalnya agak ragu makan disana, takutnya mahal, tapi apa daya, perut ini sudah tak tahan. Setelah masuk dan melihat-lihat menu, hehehe seperti dugaan awal, akhirnya gue hanya bisa memesan nasi goreng dan es teh manis (gak apa yang penting makan di tempat elite). Hmm, rekomen aja sih buat kalian yang emang suka mencari prestise dan suka sama design restoran dengan model bale bengong diatas kolam, mampirlah ke Warung Dedari, makanannya enak dan lokasinya itu loh, menurut gue sih ya comfortable banget.

Setelah asik makan dan berfoto-ria disana, perjalanan gue harus dilanjutkan, dan akhirnya gue memutuskan untuk perhi ke Jembatan Petang. Kenapa gue pilih tempat itu? Ya karna gue belum pernah kesana sebelumnya. Hahaha (krik!)
Kata pacar gue dari tabanan ke petang itu deket, so gue still yakin aja buat pergi kesana dengan jangkauan waktu yang singkat.
Asyik menikmati pemandang alam yang ada membuat gue lupa kalo perjalanan gue menuju petang belum juga sanpai. Asal kalian tau aja, gue udah ikutin petunjuk jalal sesuai sama yang ada di jalanan itu, tapi tau gak sih? Gue nyasar kemana-mana, gak lucunya bisa nyasar sampe didaerah pegunungan yang gak tau itu dimana, sampe GPS  gue aja gak bisa lacak keberadaan gue saat itu. Dan penderitaan selanjutnya adalah motor yang gue kendarai itu pake bensin tipe Pertamax dan tiap nemuin SPBU gak ada yamg nyadiain Pertamax (sedih banget gak sih?). Cuma dengan pikiran positif dan kenekatan gue, gue yakin kalo bensin motor gue bisa sampe petang, bahkan sampai SPBU yang jual Pertamax.

Setelah sekitar 2 sampai 3 jam nyasar akhirnya sampai juga di Jembatan Petang. Jembatannya sih sebenernya biasa aja, apa lagi ditambah sama tulisan-tulisan hasil tngan-tangan jahil yang bisanya cuma merusak fasilitas yang ada. Tapi, disamping itu suasanya alam yang ada membuat keadaan disana menjadi lebih baik, dan cuacanya juga lumayan sejuk.
Menurut info yang gue dapet, katanya sih, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang dan tertinggi di Pulau Bali, tapi itu katanya!


 Sampai disana gue cuma diem beberapa saat aja untuk menikmati pemandangan dan berfoto ria. Setelah itu gue langsung cuss ke Batur. Gue kirain dari petang ke batur itu deket, taunya cuuuyyyyy -_- jauh! gatau gue yang salah jalan lagi atau emang gue yang gak hoki saat itu.
Dan kembali terulang kejadian dimana gue nyasar diantara gunung dan lembah, wkwkwk lebay. Tapi ini sungguh!
Oke dipercepat aja, akhirnya gue sampailah di Batur, tapi gak ke gunung atau danaunya, gue cuma memandangi aja dari suatu resto disana.
Saat itu bukan pertama kalinya gue ke Batur, tapi itu sudah kali ke 3 gue kesana. Gunungnya tetap sama dan danaunya tetap sama. hahaha (apasih?)

Tapi 1 hal yang gue suka, pemandangan disana membuat suasana terasa tenangdamai apa lagi ditambah dengan segelas jus mangga~ huahahaha

Mungkin buat setiap orang yang kesana, Batur memiliki keindahannya tersendiri tapi gue akui deh gak bosen kalo diajak kesana lagi. apalagi kalo ditraktir~ hahahaha...
 Setelah sekitar 2 jam bersantai memandangi keindahan dan kedamaian Batur yang nyaman dan sejuk, gue kembali melanjutkan perjalan gue ke Denpasar. Setelah menempuh jarak sekian kilometer gue melewati salah satu daya tarik yang dimiliki oleh Kab. Gianyar, yaitu Ceking.
Ceking merupakan salah satu terasering atau dalam bahasa bali dikatan 'subak' yang ada di Bali. Ceking adalah salah satu subak yang terkenal dan dikelola sebaik mungkin untuk dijadikan lahan wisata di daerah Tegalalang, Gianyar, Bali. Pemandangan yang disediakan sangat asri. Subak ditata dengan sedemikian rupa agar bisa menarik banyak wisatawan berkunjung disana.
Untuk masalah akomodasi seperti restoran kita gak perlu pusing atau khawatir, karna ditepi subak banyak berjejer tempat-tempat makan atau restoran-restoran kecil. Art shop juga gak kalah banyak, tapi 1 yang kurang menurut gue, kurangnya lahan parkir untuk kendaraan. Kenapa? karna posisi ceking tepat bersebelahan dengan jalan utama, jadi kalo wisatawan yang berkunjung memarkirkan kendaraan (terutama mobil) kondisi jalanan bisa macet. Tertus kendaraan yang mau melintasi jalan itu harus bergantian biar bisa lewat, ya menurut gue jadi kurang efektif aja. Ya, semoga aja ada orang-orang yang bisa merancang sedemikian rupa lahan parkir disana.
Dan sesudah gue asik memandang-mandang dan berfoto-foto disana, gue pun kembali melanjutkan perjalanan pulang gue ke Denpasar, karena badan udah capek banget cyiiinn.. hehehe




 hmm, kayaknya segini aja deh ceritanya. udah kebanyakan BA to the COT (bacot) nih gue.
see u reeders!!

Selasa, 18 Maret 2014

Munduk Waterfall

Sebenernya sih ini udah cerita yang basi banget kalo baru di posting sekarang, tapi berhubung gue super duper sangat sibuk to the max jadi blog ini agak tehambat keberadaannya. hehehe.

Oke, pada cerita kali ini, gue mau pamer perjalanan gue ke Air Terjun Munduk di Bali. Maklumlah ya, karna gue tinggal di Bali, jadi ceritain yang di Bali dulu.

Mungkin ditelinga kalian agak asing sama yang namanya Air Terjun Munduk, air terjun ini letaknya ada di Desa Munduk, Buleleng, Bali.
Untuk mencapai kesana kita bisa melalui beberapa jalur, tapi karna gue baru sekali kesana jadi cuma tau 1 jalur, dan katanya sih itu jalur terdekat menuju air terjun, jaraknya keitar 246 m. Turunnya sih gak capek ya coy, tapi pas baliknya... huah! gempor!! (tapi demi suatu pemandangan gak jadi masalah).
Dan begitu sampai di bawah, rasanya puas banget bisa sempatin waktu buat lancong kesana.

Air terjun ini sih emang gak besar dan tinggi banget kayak air terjun yang terkenal di dunia, tapi air terjun ini memiliki keunikan tersendiri loh guys. You know what? Air terjun Munduk ini mengandung sulfur, so katanya kalau kita sedang mengalami penyakit kulit terus mandi di air terjun ini bisa nyembuhin penyakit kulit yang sedang dialami. Tapi ya nggak sekali mandi terus sembuh, mungkin harus berulang kali dan disertai doa kepada Yang Maha Kuasa.

Entah gue yang deso atau emang bener, mandi di air terjun ini seger banget, airnya dingin, jernih, deras dan lokasinya juga berada di perbukitan kopi milik warga setempat. Tapi gausah khawatiw, tempatnya aman kok ;)
Karena lokasinya masih asli dan asri banget, jadi akomodasi yang tersedia emang cukup minim. Di dekat air terjun itu cuma ada 1 warung kecil, ya bisalah dibilang resto merakyat~ kan lumayan habis mandi, terus laper dan udah ada tempat beli makan disana :D
Lalu disana juga ada toilet yang sangat sederhana, ya seadanya banget sih emang, tapi disyukurin aja, mending masih ada, daripada nggak ada, terus bingung mau ganti baju dimana? ya gak? (iya aja dah).

Nah, sampe kelupaan deh info tentang parkirnya. Waktu itu gue parkirin motor di sebuah warung kecil di depan tangga menuju ke air terjun. Pemilik warung emang gak kasih harga parkir sih, tapi berhubung orangnya baik ya secara sukarela gue kasih Rp 10.000 buat parkir motor. Lalu sama pemilik warungm gue dipinjamkan tongkat kayu untuk membantu mendaki saat pulang nanti dari air terjun.

Mungkin ini aja sih yang bisa gue ceritain tentang Munduk Waterfall. Semoga aja bermanfaat ya buat kalian yang berniat dan berminat kesana :)





Ulun Danu Beratan, Bedugul

Hello guys. Stevi is back!!

Untuk post yang terbaru ini, gue  mau share tentang perjalanan liburan gue di Bali.
Dan dalam kesempatan kali ini Tuhan mengizinkan gue untuk berkunjung ke Ulun Danu Beratan Bedugul, yang tepatnya berada di daerah Tabanan.
Pura Ulun Danu Beratan merupakan salah satu destinasi yang berada di Bali.

check it out!!

Nah, yang satu ini namanya Pura Ulun Danu Beratan
Pura ini juga yang ada di uang Rp 50.000 coba deh kalian check, pasti mirip :)


Di sana kita gak cuma nemuin Pura itu aja tapi ada beberapa Pura yang lainnya.
seperti ini:

Mungkin gue emang gak tau pasti kenapa ada patung naga disana, tapi menurut mitos yang beredar di Danau Beratan ada naga yang bersemayam di dalam itu. (inget ya ini mitos dan belum tau gimana kejelasannya).




















Di Ulun Danu Beratan cuacanya tergolong dingin, karena berada di daerah pegungungan. Sesekali juga turun kabut disana. jadi buat orang Jakarta, ini semacam jalan-jalan ke Puncak gitu deeeehhh..

Tapi buat masuk ke kawasan ini, kita dikenakan biaya untuk tiket masuk. kalau untuk wisatawan domestik sendiri terbagi atas 2 bagian:


  1. Dewasa      : Rp 10.000 / orang
  2. Anak-anak  : Rp  5.000 / orang
Lalu untuk wisatawan Internasional, dikenakan biaya yang berbeda, untuk pastinya gue sendiri sih lupa, hehehe. maaf yaa :)


Disana kita gak cuma bisa melihat suasana pura yang berada diatas air ini aja, tapi banyak juga wisatawan yang berkunjung untuk hunting foto, bermain di wisata danaunya dan ada juga yang datang kesana untuk foto pra-wedding. Asik deh pokoknya, apa lagi ditambah cuacanya yang sejuk-sejuk agak dingin gitu deh :D
ex: Wisata Air

ex: Pra-Wedding
ex: Hunting_2
ex: Hunting_1

bay the way, harga tiket untuk wahana air sendiri berbeda-beda, tergantung sama jenis permain apa yang mau kita naikin. Tapi masih tergolong murah kok, harganya sekitar Rp 20.000 - Rp 35.000 per setiap permainan.

Dulu, di taman sekitar danau dan pura ini juga ada event untuk berfoto bersama hewan-hewan, contohnya ular, macan atau burung, tapi sekarang cuma bisa begini:



yaaaa, gak apa lah yaaaa, yang penting judulnya kan hewan~~

Lalu disana juga ada taman bermain untuk anak-anak, jadi gak hanya bermain air dan foto-foto saja, buat para orang tua juga bisa mengaja anak-anak anda bermain disana. Saya aja main disana, hihihi...





Nah, jika anda-anda semua yang datang untuk berwisata butuh penginapan, warung makan dan pusat belanja oleh-oleh yang dekat dengan objek ini, gue punya nih masukannya.

ex: Penginapan_1
ex: Penginapan_2


ex: Rumah Makan_1













ex: Rumah Makan_2

ex: Pusat Belanja Oleh-Oleh_2
ex: Pusat Belanja Oleh-Oleh_1

heeeemm, kayaknya segini dulu aja deh yah ceritanya.
maaf-maaf ya kalo blog nya garing, tapi semoga berguna loh yaaa...

see u next episode readers :)




Kamis, 06 Juni 2013

Ragunan, Zoological Park in Jakarta


Hallo, kali ini gue mau bahas segelintir info pariwisata di tanah kelahiran gue, yaitu
Taman Margasatwa Ragunan.
Tapi... sebelum itu gue mau yang baca jangan jadi kangen sama sodaranya
yang ada disana ya~
hehehehe


okelah, lets check this out!!

Taman Margasatwa Ragunan atau yang eksis ditelinga kita Ragunan, merupakan suatu objek wisata yang ada di Jakarta. tepatnya berada di Jl. R.M Harsono, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Banyak orang yang berstatment kalau Ragunan itu cuma sarang Monyet, alias kebun binatang yang nampung monyet dan sejenisnya.
Salah banget tuh kalau mikir seperti itu...
Emang sih disana ada Pusat Primata Schmutzer yang isi nya emang khusus primata aja, tapi jangan salah tanggap dulu, kalau bagian Primata Schmutzer sih emang isi nya monyet dan saudara-saudaranya aja, tapi kalau di luarnya nggak kok.
Disana tuh kita bisa nemuin Harimau Sumatra, Harimau Putih, Komodo, Jerapah, Kuda Zebra, Gajah, Ular Phyton dan berbagai macam burung seperti Kakatua, Kasuari dan Betet.  


 


Perlu kalian tau, kalau ternyata Ragunan ini merupakan kebun binatang pertama yang ada di Indonesia, yang telah berdiri sejak tahun 1864. Awalnya Ragunan sendiri diberi nama Planten En Dierentuin yang berarti "Tanaman dan Kebun Binatang", makanya kalau kita masuk ke Ragunan, kita nggak cuma menemukan hewan aja, tapi juga spesies-spesies tanaman

Kita bisa nemuin berbagai koleksi yang terdiri dari 295 spesies dan 4040 spesimen. keren kan..
Makanya Ragunan digolongkan sebagai Zoological Park, karena selain sebagai taman margasatwa, Ragunan sendiri juga dijadikan sebagai taman rekreasi. Dan  cocok banget kalau dijadikan sebagai sarana edukasi untuk anak-anak.
Kenapa? Karena di Ragunan kita bisa melihat berbagai jenis hewan dengan sangat dekat dan jelas, bahkan ada beberapa jenis spesies yang dapat kita sentuh, beri makan dan berfoto bersama. Asik banget kan?
Tapi untuk memberi makan hewan-hewan tersebut, ada jam khsuusnya nih. (hewan aja makan berjadwal, tapi kalau manusia? kapan laper disitu mereka makan, yakan?). Jadi untuk memeberi makan para wisatawan wajib, kudu, mesti, must, harus liat jadwalnya yang sudah disediakan oleh pengelola.

 

Raguan sendiri sebagai Zoological Park memiliki lebih dari 260 spesies satwa dan sekitar 3000 hewan (termasuk burung-burungan) tergolong langka.


Disana juga tak hanya mengkonservasi hewan langka milik Indonesia saja, tapi ada juga lho yang milik luar negeri.


Raguan juga punya tempat spesial yaitu Pusat Primata Schmutzer, yaitu tempat pelestarian primata seperti gorilla, orang utan, simpanse dan gank nya. PP Schmutzer sendiri awalnya dikelola dan didanai langsung oleh The Gibbon Fondation.
Di dalam PP Schmutzer kita dapat melihat primata yang dirawat dengan baik. Disana juga kita dapat melihat primata-primata itu dengan sangat dekat, karna hanya di batasi oleh pagar atau kaca. Tapi untuk para wisatawan yang merokok dilarang banget buat merokok disana. kasian nanti primatanya malah sakit karena asap rokoknya. Untuk masuk kesana juga kita dilarang buat membawa makanan, hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan PP Schmutzer sendiri. Tapi hal yang lebih nggak enaknya lagi, kalau kita membawa makanan ke dalam, nanti makanan kita itu malah direbut sama gank primata yang menghuni PP Schmutzer sendiri, gamau kan makanannya diambil? Makanya, pengelola melarang membawa makanan kedalam.
Untuk masuk ke PP Schmutzer sendiri, tiap wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp 6.000 sampai Rp 7.500 saja.



Selain taman rekreasi dan satwa, di Ragunan ada juga restoran, kantin dan beberapa wahana bermain anak-anak, seperti kereta mini untuk berkeliling Ragunan, perahu angsa, bombom car, kuda-kudaan dan lainnya dengan harga tiket sekitar Rp. 3000 sampai Rp.6000 saja, kecuali perahu angsa harga tiket sekitar Rp.15.000 untuk 2 orang. Ada juga wahana Gajah tunggang, Kuda tunggang dan Unta tunggang, terus anak-anak juga bisa menaikinya keliling area tunggang hewan tersebut. Harga Tiket sekali keliling Rp. 5.000,- sampai 7.500. Terjangkau banget kan buat dijadikan sarana rekreasi dan edukasi untuk anak-anak?

Pokoknya di Ragunan kita bisa seneng-seneng deh, sama keluarga? bisa. sama temen/sahabat? bisa. sama pacar juga bisa kok. hihihihihi.
Hunting foto? wah tiu apa lagi, bisa banget dong, nih contohnya:

  

Saran aja nih buat para orang tua, jangan sering-sering memanjakan anak dengan teknologi, tapi bawalah mereka berekreasi yang didalamnya juga mengandung edukasi, seperti ragunan ini.
Dan buat kalian-kalian kawula muda, dateng ke Raguan juga dong, perluas wawasan kalian dan observasi langsung. Sesekali pacaran di kandang hewan yang komplit kayak Raguan ini kan juga asik. hehehehe.

okelah, sekian bacotan gue tentang Raguan
semoga bermanfaat untuk kalian
see you at Ragunan :)