Setelah lelah seharian berkunjung di Ulun Danu Bratan dan Munduk Waterfal, perjalan dileesokan harinya gue niatnya sih langsung pulang, tapi kayaknya useless banget kalo jalan-jalan cuma begitu aja.


Karena diri ini hanyalah seorang mahasiswa dengan uang janjan yang pas-pasan, awalnya agak ragu makan disana, takutnya mahal, tapi apa daya, perut ini sudah tak tahan. Setelah masuk dan melihat-lihat menu, hehehe seperti dugaan awal, akhirnya gue hanya bisa memesan nasi goreng dan es teh manis (gak apa yang penting makan di tempat elite). Hmm, rekomen aja sih buat kalian yang emang suka mencari prestise dan suka sama design restoran dengan model bale bengong diatas kolam, mampirlah ke Warung Dedari, makanannya enak dan lokasinya itu loh, menurut gue sih ya comfortable banget.
Setelah asik makan dan berfoto-ria disana, perjalanan gue harus dilanjutkan, dan akhirnya gue memutuskan untuk perhi ke Jembatan Petang. Kenapa gue pilih tempat itu? Ya karna gue belum pernah kesana sebelumnya. Hahaha (krik!)
Kata pacar gue dari tabanan ke petang itu deket, so gue still yakin aja buat pergi kesana dengan jangkauan waktu yang singkat.
Asyik menikmati pemandang alam yang ada membuat gue lupa kalo perjalanan gue menuju petang belum juga sanpai. Asal kalian tau aja, gue udah ikutin petunjuk jalal sesuai sama yang ada di jalanan itu, tapi tau gak sih? Gue nyasar kemana-mana, gak lucunya bisa nyasar sampe didaerah pegunungan yang gak tau itu dimana, sampe GPS gue aja gak bisa lacak keberadaan gue saat itu. Dan penderitaan selanjutnya adalah motor yang gue kendarai itu pake bensin tipe Pertamax dan tiap nemuin SPBU gak ada yamg nyadiain Pertamax (sedih banget gak sih?). Cuma dengan pikiran positif dan kenekatan gue, gue yakin kalo bensin motor gue bisa sampe petang, bahkan sampai SPBU yang jual Pertamax.
Setelah sekitar 2 sampai 3 jam nyasar akhirnya sampai juga di Jembatan Petang. Jembatannya sih sebenernya biasa aja, apa lagi ditambah sama tulisan-tulisan hasil tngan-tangan jahil yang bisanya cuma merusak fasilitas yang ada. Tapi, disamping itu suasanya alam yang ada membuat keadaan disana menjadi lebih baik, dan cuacanya juga lumayan sejuk.
Menurut info yang gue dapet, katanya sih, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang dan tertinggi di Pulau Bali, tapi itu katanya!

Dan kembali terulang kejadian dimana gue nyasar diantara gunung dan lembah, wkwkwk lebay. Tapi ini sungguh!

Saat itu bukan pertama kalinya gue ke Batur, tapi itu sudah kali ke 3 gue kesana. Gunungnya tetap sama dan danaunya tetap sama. hahaha (apasih?)


Setelah sekitar 2 jam bersantai memandangi keindahan dan kedamaian Batur yang nyaman dan sejuk, gue kembali melanjutkan perjalan gue ke Denpasar. Setelah menempuh jarak sekian kilometer gue melewati salah satu daya tarik yang dimiliki oleh Kab. Gianyar, yaitu Ceking.
Ceking merupakan salah satu terasering atau dalam bahasa bali dikatan 'subak' yang ada di Bali. Ceking adalah salah satu subak yang terkenal dan dikelola sebaik mungkin untuk dijadikan lahan wisata di daerah Tegalalang, Gianyar, Bali. Pemandangan yang disediakan sangat asri. Subak ditata dengan sedemikian rupa agar bisa menarik banyak wisatawan berkunjung disana.



hmm, kayaknya segini aja deh ceritanya. udah kebanyakan BA to the COT (bacot) nih gue.
see u reeders!!